Senin, 27 November 2017

Uji Kenaikan Pangkat, Renang 50 M Harus Bisa..!



Merauke – Berbagai ujian harus dilalui oleh  prajurit-prajurit Denzipur 11/MA dalam Uji Klenaikan Pangkat (UKP), Kesegaran Jasmani A dan B serta postur. Dilanjutkan dengan pelaksanaan tes ketangkasan dengan renang gaya dada 50 M menggunakan pakaian PDL (Pakaian Dinas Lapangan) yang merupakan renang militer dasar sebagai rangkaian dari tes garjas. Kegiatan ini dilaksanakan di kolam renang Korem 174/ATW Merauke, pada Selasa (28/11).
Dihadapkan dengan kolam yang penuh warna lumpur di daerah merauke, serta waktu pelaksanaan ketangkasan di pagi hari sehingga suasana terasa lebih dingin, namun hal ini tidak menyurutkan semangat para prajurit untuk berjibaku dengan air kolam tersebut.
Tes ketangkasan renang bagi setiap prajurit merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan dan ini menjadi salah satu persyaratan mutlak yang harus dipenuhi oleh semua prajurit untuk Usul Kenaikan Pangkat (UKP), maupun bagi prajurit yang akan menempuh Diktukpa dan Diktukba dengan pencapaian nilai yang memenuhi kriteria menurut kategori umur prajurit tersebut. 
Pasipers Denzipur 11/MA Letda Czi Demy Mukti bersama dengan Bamin Denzipur 11/MA Sertu Fajrin, mendampingi langsung prajurit yang sedang melaksanakan UKP tes ketangkasan renang 50 M sampai dengan selesei kegiatan.
Seluruh kegiatan berjalan dengan aman dan lancar hingga selesai, prajurit Denzipur 11/MA peserta UKP 01 April TA 2018 melewati tes tersebut dengan penuh antusias dan semangat. (Dz_11)

Sabtu, 27 Juni 2015

“Jangan Sanjung Aku Tetapi Teruskanlah Perjuanganku” Silas Papare Pahlawan dari Timur Indonesia


Mengawali tulisan ini, penulis ingin mengingatkan sedikit pesan singkat sang proklamator kemerdekaan kita, bapak Ir. Soekarno.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”.

Ya, sebagaimana dipesankan oleh beliau, memang benar bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya. Bagaimana tidak, seandainya bukan karena jasa mereka, tentunya hingga hari ini kita belum mampu menghirup nafas kemerdekaan. Perjuangan para pahlawan bukanlah sekedar dengan hasrat dan kata-kata, perjuangan mereka diwarnai dengan penuh duka dan cita. Perjuangan mereka dipenuhi dengan pengorbanan harta, jiwa dan raga.

Hari ini, kita merasakan kebebasan dari penjajahan berkat jasa para pahlawan. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita senantisa mengenang jasa mereka. Kisah heroik mereka, tak akan pernah lekang oleh waktu. Setiap kata-kata perjuangan yang mereka gelorakan, akan selalu mampu membuat kita tergugah dari jiwa yang lesu. Kisah perjuangan mereka, sudah selayaknya menjadi tauladan dan pemicu bagi kita untuk hidup dengan penuh semangat.



“Jangan sanjung aku, tetapi teruskanlah perjuanganku”.

Begitulah salah satu pesan yang disampaikan oleh pahlawan nasional kita dari timur Indonesia, Silas Ayari Donari Papare.

Begitu singkat, namun memiliki makna yang luas dan mendalam.



Kisah singkat Papua dahulu kala.

Kehidupan Papua, tidak jauh berbeda dengan wilayah-wialayah Indonesia yang lainnya. Dahulu kala, Papua tidak lekang dari penjajahan Kolonial Belanda dalam waktu yang tidak sebentar. Bahkan, ketika kemerdekaan sudah diraih Indonesia dan dinyatakan dengan resmi pada tanggal 17 Agustus 1945 pun, Papua masih harus meneruskan perjuangannya, bangkit dari penjajahan kolonial Belanda yang tidak mau beranjak pergi. Perumusan undang-undang tentang kemerdekaan dan pernyataan resmi bahwa Indonesia merupakan sebuah negara berbentuk republik yang merdeka, di mana wilayahnya meliputi seluruh wilayah bekas penjajahan Hindia Belanda yang di dalamnya termasuk Irian Barat (nama Papua kala itu), sang kolonial bersikap seolah-olah tidak tahu dan terus berusaha menduduki wilayah Indonesia di Papua.

Sejak proklamasi kemerdekaanpun, berbagai perjanjian telah disepakati oleh Indonesia dengan Belanda. Konferensi Meja Bundar (KMB) pada tahun 1949 di Den Haag misalnya. Dalam perjanjian tersebut, tercatat bahwa salah satu poin pentingnya adalah masalah Papua, yakni permasalahan Papua yang sejak kemerdekaan Indonesia tahun 1945 masih terkatung-katung akan diselesaikan dalam waktu 1 tahun. Namun sayangnya, perjanjian tersebut seolah hanya bagai untaian kata yang tak bermakna. Melenceng dari yang diharapkan, permasalahan Papuapun tidak kunjung selesai hingga tahun 1961. Namun pada akhirnya, kebatilan tidak akan pernah mampu berdiri di atas kebenaran. Dengan berbagai fakta yang terjadi, situasipun mendesak keharusan Papua untuk segera diserahkan Belanda kepada Indonesia. Pada tahun 1962, akhirnya masalah Papua mampu terselesaikan melalui dukungan internasional. Melalui badan internasional United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), secara resmi Belanda menandatangani penyerahan Papua kepada pihak UNTEA yang tercatat pada tanggal 15 Agustus 1962. Selanjutanya pada tanggal 1 Mei 1963, dari pihak UNTEA secara resmi menyerahkan Papua kembali kepada Indonesia, di mana hal ini dikenal dengan New York Agreement.

Secara singkat kala itu, melihat bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke yang terus bergelora memperjuangkan kemerdekaan  secara penuh dari penjajahan, begitu juga dengan dukungan dan desakan internasional yang tidak buta melihat penjajahan yang terjadi di wilayah Papua indonesia, ternyata membuat sang kolonialpun merasa khawatir. Belanda menyadari bahwa ia tidak akan mampu selamanya mempertahankan penjajahannya yang saat itu menduduki wilayah Papua.

Dilandasi kekhawatiran tersebut, Belanda mulai berfikir untuk segera meninggalkan wilayah Papua. Namun sayangnya, rencana kepergiannya tanpa diiringi dengan perasaan yang ikhlas. Dengan rencana piciknya, Belanda mulai menanamkan benih benalu di Papua. Sejak saat itulah sejarah terbentuknya negara boneka yang dirancang Belanda dimulai. Belanda dengan tanpa rasa malu seolah-olah ingin menjadi pahlawan kesiangan bagi bangsa Papua. Belanda mulai membentuk negara khayalannya di atas negara yang merdeka. Dengan semua itu, hingga kini dampak negatif dari negara boneka kahayalan tersebut ternyata berhasil menyisakan bekas. Negara boneka yang dirancang Belanda telah mampu mencuci otak sekelompok kecil warga Papua untuk meneriakkan kemerdekaan di atas kemerdekaan, memperjuangkan penghirupan nafas yang bebas di atas melimpah dan segarnya udara kebebasan di tanah Papua.



Perjuangan Pahlawan Papua Silas Ayari Donari Papare.

Papua hari ini, merupakan generasi muda sebagai penerus para pendahulunya. Papua hari ini, merupakan hasil perjuangan para pahlawannya.

Silas Ayari Donari Papare yang biasa lebih dikenal dengan panggilan Silas Papare, merupakan salah satu generasi pendahulu sekaligus pahlawan Indonesia khususnya untuk wilayah Papua. Beliau dilahirkan di Serui, Papua, 18 Desember 1918 dan mengakhiri hidupnya di Serui pula pada tanggal 17 Maret 1978.


Bertolak dari sejarah singkat Papua yang telah ditulis di paragraf sebelumnya, telah tercatat dalam sejarah kegigihan beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan Papua. Beliau bersama para pahlawan nasional lainnya, baik yang berasal dari Papua ataupun wilayah Indonesia lainnya, telah berjuang sekuat tenaga untuk mengusir penjajahan kolonial Belanda yang tidak rela untuk pergi. Setidaknya, dalam sejarah yang banyak ditulis, beliau tercatat pernah masuk penjara Belanda karena telah mempengaruhi batalyon Papua untuk memberontak. Selain itu, beliau juga pernah mendirikan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) dan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta pada tahun 1949, dalam upayanya membebaskan diri sepenuhnya dari penjajahan. Kemudian, beliau juga terkenal dalam semangatnya untuk mengadakan perang terbuka dengan Belanda kala itu, sebelum akhirnya Belanda menyatakan siap pergi dari Papua. Pada tahun 1962, beliau juga tercatat menjadi salah satu perwakilan delegasi Republik Indonesia untuk penandatanganan penyerahan Papua oleh Belanda, yang pada akhirnya mendapatkan pernyataan resmi dalam New York Agreement pada tahun 1963, bahwa Papua merupakan bagian dari Indonesia.

Begitulah perjuangan salah satu pahlawan kita Silas Ayari Donari Papare dalam memperjuangkan kemerdekaan Papua dari penjajahan. Walaupun beliau telah banyak berkorban dan berjasa, namun beliau tidak mengharapkan apapun dari kita untuk berbalas budi. Dengan penuh makna yang terkandung, beliau telah menasehati kita dalam ucapannya, “jangan sanjung aku tetapi teruskanlah perjuanganku”.

Dengan semua itu, marilah kita menyambut ajakan dan permintaan beliau, marilah kita bersama-sama melanjutkan perjuangan yang telah beliau perjuangkan. Mari kita makmur dan sejahterakan bangsa Indonesia secara umum, dan Papua secara khususnya. Mari kita bangun Papua, bukan merusak Papua. Mari kita tanamkan pemikiran-pemikiran optimis, bukan pemikiran-pemikiran yang merusak dan menghambat kemajuan Papua. Sudah saatnya kita berusaha dan berkerja bersama-sama mewujudkan semua itu. Mari kita ajak sebagian kecil saudara-saudara kita yang masih terinfeksi penyakit negara boneka buatan sang kolonial, untuk segera sadar dan merapatkan barisan dalam membangun Papua. Penulis yakin, kitorang (kita orang – bahasa logat Papua) semua bisa mewujudkan semua itu.

Salam damai untuk Silas Ayari Donari Papare sang pahlawan Indonesia dari timur yang sudah beristirahat di alam sana. Salam damai untuk para pecinta Papua dan Indonesia. (Ib/Cend)

Menyikapi Dibukanya Akses Jurnalis Asing Ke Papua


Mulai 10 Mei 2015 akses jurnalis asing telah dibuka. Hal ini disampaikan langsung oleh Presiden Rl, Bpk. Ir. Joko Widodo saat berkunjung ke Jayapura.   Ini artinya bahwa mulai saat ini wartawan asing dari negara manapun diizinkan untuk datang dan meliput di seluruh wilayah Indonesia termasuk di Provinsi Papua dan Papua Barat.

Selama ini untuk wilayah Papua dan Papua Barat diberlakukan clearing house, untuk membatasi para jurnalis asing yang masuk ke wilayah Papua.  Pembatasan  ini dilakukan dalam rangka mencegah pemberitaan yang negatif dan tidak terkontrol berkaitan dengan organisasi terlarang OPM yang merugikan pemerintah Indonesia.

Keputusan yang disampaikan Presiden ini harus dilaksanakan oleh Pemda dan TNI serta Polri. Kondisi ini tentu menyiratkan konsekuensi terhadap satuan jajaran Kodam XVII/Cenderawasih untuk mempedomani instruksi ini. Kebebasan pers dan leluasanya jurnalis asing yang masuk ke wilayah Papua tidak bisa dihindari. Keterbukaan media untuk meliput dan mempublikasikan berita dimanapun dipelosok wilayah Papua tidak bisa dicegah.

Hal terbaik yang perlu dilakukan adalah mentaati segala prosedur kegiatan dan hukum yang berlaku. Apapun yang dilakukan kita sepanjang sesuai dengan prosedur dan hukum tidak usah khawatir dan ragu-ragu. Kondisi ini menuntut aparat keamanan agar selalu berhati-hati dalam berbuat dan harus menguasai prosedur dan hukum sesuai bidang masing-masing. Setiap penangkapan seseorang/kelompok orang yang melanggar hukum harus ada alasan yang jelas dan dilakukan sesuai prosedur serta lengkapi dengan dokumentasi.

Kondisi ini juga menuntut kita untuk “cerdas” dalam menyikapi situasi dan tidak boleh ceroboh, seperti yang disampaikan Panglima TNI dimana persoalan teknis yang tidak bisa diselesaikan dengan baik akan berakibat menjadi persoalan politik yang luar biasa dan bahkan menjadi persoalan internasional. Sebagaimana contoh pengambilan dokumentasi yang masuk youtube tentang kegiatan kita yang tidak sesuai prosedur.

Untuk menyikapi kebebasan media yang bebas masuk ke wilayah Papua, maka perlu mempedomani hal-hal sebagai berikut:

1.         Setiap Prajurit harus bekerja profesional (kuasai secara teknis dan taktis) sesuai bidang tugasnya.

2.         Kuasai hukum yang berlaku dan prosedur setiap kegiatan untuk mencegah kesalahan yang tidak perlu akibat kurangnya pengetahuan tentang prosedur dan hukum.

3.         Pedomani prosedur tetap (Protap) setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh masing-masing satuan. Pastikan prosedur itu telah dimengerti oleh anggota, sehingga tidak terjadi kesalahan prosedur yang akan menjadi konsumsi media.

4.         Bangun komunikasi yang baik dengan semua pihak untuk memudahkan koordinasi dan penyelesaian setiap permasalahan yang mungkin timbul.

5.         Jalin kerjasama dengan semua media untuk memudahkan koordinasi dan pengendalian pemberitaan.

6.         Tingkatkan pemberitaan positif baik di media cetak, elektronik dan online tentang  berbagai kegiatan satuan jajaran Kodam XVII/Cenderawasih dalam membantu rakyat  di sekitar satuan untuk meningkatkan citra positif peran TNI di wilayah Papua dan Papua Barat.

7.         Tingkatkan kualitas kegiatan pengawasan dan pengendalian para Dan/Ka satuan.

Demikian Lembar Penerangan Pasukan ini disampaikan untuk dapat dipedomani, dilaksanakan dan disebarluaskan kepada seluruh Prajurit dan Pegawai Negeri Sipil Kodam XVII/ Cenderawasih dimanapun bertugas dan berada.

Selamat bertugas !!!

Kebudayaan Merauke


Merauke adalah kota paling selatan di Indonesia,yang berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini.Banyak sekali kebudayaan yang terdapat di kota Merauke,salah satunya adalah tarian khasnya.Yospan adalah salah satu tarian adapt merauke,yang sering dipakai dalam kondisi tertentu. yospan juga merupakan tarian persahabatan masyarakat papua.Karena hampir seluruh masyarakat papua mengenal tarian yospan. Selain yospan,merauke juga memiliki beberapa tarian adat,antara lain,tari perang,dan tari gatsi.Tari perang biasanya dilakukan pada upacara- upacara adapt tertentu,dan juga pada festival kota merauke yang diadakan stu tahun sekali, dalam memperingati ulang tahun kota Merauke.Sedangkan tari gatsi dilakukan pada acara – acara tertentu dan upacara adat tertentu,tarian ini adalah tarian adat suku asli kota merauke,yaitu suku marind.Alat – alat musik yang digunakan untuk mengiringi tarian ini adalah tifa yang terbuat dari kayu yang dibolongi atau di kosongkan isinya, dan pada satu sisinya diberi penutup.Penutupnya terbuat dari kulit rusa dan juga kulit biawak yang dikeringi,agar bunyinya menjadi lebih indah.

Mengenang dan Memaknai Hari Pahlawan Untuk Papua



Kala itu, dengan sikap arogansinya mereka meminta Indonesia menyerah.

Kala itu, dengan sikap rakus akan kekuasaannya, mereka meminta Indonesia untuk tunduk takluk di bawah kekuasaan mereka.

Seolah tidak puas dengan waktu tiga setengah abad mereka melalui Kolonial Belanda menjajah Indonesia, bahkan setelah melalui masa penjajahan Jepang hingga diikrarkannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 pun, mereka masih saja menginginkan rakyat Indonesia untuk hidup bagai budak di negeri sendiri.

Inggris dan Belanda, kala itu bertindak seolah ingin menjadi pahlawan bagi Indonesia. Dari lisannya, mereka mengaku bahwa mereka ingin menyelamatkan dan membantu Indonesia untuk lepas dari penjajahan Jepang. Namun, apa yang terjadi ternyata tidak semanis kata-kata yang dilontarkannya. Seperti yang dikatakan dalam pepatah, “Ada udang di balik batu”, Inggrispun menggunakan alasan tersebut untuk membungkus misi terselubungnya, yakni mengembalikan Indonesia ke dalam masa-masa penjajajan Belanda yang sempat terhenti oleh Jepang, yang juga ingin menjadi penjajah di negeri kita ini.

Memang benar, pepatah mengatakan bahwa “Semutpun, bila diinjak akan menggigit”. Indonesia yang miskin akan peralatan perang kala itu, tidak gentar akan ancaman Inggris yang dalam ultimatumnya akan meluluh lantakkan negeri, terutama kota Surabaya sebagai basis kedudukannya kala itu. Semangat kejuangan dan kepahlawanan rakyat yang baru beberapa bulan saja menikmati masa-masa kemerdekaanya, tumbuh semakin menggelora, sekalipun dihadapkan dengan ancaman 30.000 tentara sekutu yang lengkap dengan peralatan perang yang modernnya sepeti tank lapis baja, kapal perang, pesawat tempur dan peralatan perang lainnya.

10 November 1945, merupakan hari yang tak terlupakan dan jangan sampai dilupakan.

10 November 1945, merupakan hari bersejarah di mana di dalamnya para pahlawan bangsa telah menunjukkan sikap paling heroiknya.

10 November 1945, merupakan hari di mana para pahlawan mempersembahkan darah merah keberaniannya, untuk mewarnai kain putih yang diminta sekutu sebagai tanda kekalahaan, menjadikannya kain “merah putih” yang merupakan harga mati bagi rakyat Indonesia, yang senantiasa terpatri dalam jiwa.

10 November 1945, merupakan hari di mana para pahlawan telah menunjukkan jiwa suci mereka, di mana para pahlawan telah mengajarkan kepada kita semua, bahwa mati dalam jalan kemuliaan, adalah lebih baik daripada hidup dalam kungkungan para penjajah dengan penuh kehinaan.

10 November 1945, merupakan hari di mana para pahlawan bangsa telah menyerahkan seluruh jiwa dan raganya, tenaga dan darahnya, untuk merobek kain biru dari bendera merah-putih-biru Belanda yang ingin dikibarkan kembali kala itu, menjadi bendera merah putih yang suci dan berani.

10 November 1945, merupakan hari bersejarah di mana ia telah menunjukkan kepada dunia, bahwa tekad, keberanian, persatuan, sikap kejuangan dan kepahlwananlah yang menjadi senjata terkuat dan terhebat. Sekutu yang dengan sombongnya mengancam bangsa kita dengan senjata-senjata perang tercanggihnya kala itu, seolah tiada berarti dihadapan para “pahlawan” bangsa kita, bagsa Indonesia, yang dalam hatinya tertanam dua pilihan yang kuat “Merdeka atau mati”

10 November 1945, merupakan hari kebanggaan kita, merupakan “hari pahlawan” bagi kita semua warga negara Indonesia.





Sejarah Singkat Meletusnya Hari Pahlawan.

- Masuknya Jepang. Secara singkat, Belanda yang menjajah Indonesia hampir tiga setengah abad kala itu, harus terhenti di kala Jepang tiba untuk tujuan yang sama, yakni menjajah Indonesia. Tidak lama setelah kedatangannya, hanya dalam waktu 7 hari, melaui perjanjian Linggarjati, Jepang berhasil membuat Belanda menyerah dengan tanpa syarat sedikitpun. Dengan demikian, secara otomatis kekuasaan penjajahanpun beralih dari Belanda kepada Jepang.

- Masa Kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah beberapa tahun Jepang berhasil menduduki Indonesia, tanpa disangka kemudian ia harus dihadapkan dengan pilihan berat, yakni harus tunduk dan menyerah kepada Amerika Serikat dan negara-negara sekutu yang terlibat konflik dengannya. Kala itu, Amerika Serikat telah berhasil menjatuhkan bom dan meluluhlantahkan kota Nagasaki dan Hiroshima di negeri Jepang. Seolah tidak ada pilihan lain, Jepangpun menyatakan kekalahannya dan menyerah kepada sekutu. Dalam keadaan seperti ini, Indonesiapun melalui Bung Karno, Bung Hatta dan yang lainnya, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Singkat cerita, dalam masa kekosongan kekuasaan dan kehancuran Jepang, Indonesiapun telah berhasil memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka, pada tanggal 17 Agustus 1945.

- Masuk Kembalinya Belanda Disertai Inggris. Setelah Jepang mengalami kehancuran dan kekalahan serta setelah berhasilnya kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, Indonesiapun dengan gigih melucuti persenjataan Jepang dan berusaha mengusirnya. Namun, karena masih mendapatkan perlawanan, maka korban nyawapun tidak sedikit berjatuhan. Kemudian, dengan alasan ingin membantu Indonesia lepas seutuhnya dari Jepang, singkat cerita Inggrispun tiba di Jakarta pada tanggal 15 September 1945 yang kemudian beralih ke Surabaya pada tanggal 25 Oktobernya.

- Meletusnya Pertempuran 10 November (Hari Pahlawan). Setelah kedatangannya di Surabaya, Inggrispun terlibat beberapa pertempuran dengan rakyat Indonesia yang berada di sana, yang pada saat itu telah berhasil mencium bau rencana busuk yang dibawa oleh mereka (pasukan Inggris) dan menolak keras kehadirannya. Singkat cerita, pada akhirnya pertempuran-pertempuran tersebut pun telah berhasil membawa kejayaan bagi Indonesia, yang berhasil menewaskan Brigadir Jenderal Mallaby sebagai pimpinan tertinggi Inggris pada saat itu.

Namun, dengan terbunuhnya jenderal mereka tersebut, ternyata menimbulkan kemarahan besar terhadap Mayor Jenderal Robert Mansergh, sebagai pengganti Jenderal Mallaby dalam memimpin pasukan Inggris. Ia kemudian mengeluarkan ultimatum kepada para pahlawan bangsa dan rakyat Indonesia di sana, untuk segera menyerahkan diri dan senjata-senjata yang dimiliki kepada Sekutu, pada waktu yang telah ditentukan, yakni pukul 06.00 WIB tanggal 10 November 1945. Namun, kendatipun dihadapkan dengan ancaman yang besar tersebut, para pahlawan dan rakyat Indonesia tidak merasa gentar sedikitpun, bahkan mereka justru semakin buas dalam keberanian untuk melawan tirani dan penjajahan. Dengan lantang dan gagah berani, dengan senang hati mereka menyongsong ancaman perang pihak Inggris, sekalipun nyawa dan raga mereka yang harus dikorbankan.

Selanjutnya, singkat cerita tibalah saatnya waktu yang ditentukan oleh Jenderal Robert dalam ultimatumnya, yakni permintaanya kepada rakyat Indonesia untuk segera menyerahkan diri. Namun, karena hingga saat itupun Indonesia tidak mau menyerah kepada mereka, dengan demikian pertempuran 10 Novemberpun dimulai. Inggris mulai menyerang dan menggempur dengan sekala besar terhadap para pahlawan dan rakyat Indonesia di daerah Surabaya melaui serangan darat, laut dan udara. Saat itu, korbanpun jatuh berguguran, gedung-gedungpun berhamburan.

Kala itu, dalam kesombongannya Inggris memperkirakan akan membuat Indonesia takluk dalam waktu tiga hari saja, namun ternyata perlawanan dan kegigihan para pahlawan malah membuat mereka tercengang. Rakyat Indonesia yang tergabung kala itu, yang dipelopori oleh tokoh muda Bung Tomo, begitu juga rakyat sipil dan para santri yang patuh terhadap tokoh masyarakat dan tokoh agama K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Wahab Hasbullah, begitu juga Tentara Kemanan Rakyat (TKR) yang sudah mulai terbentuk pasca kemerdekaan, mereka bersatu padu melawan dengan gigih gempuran-gempuran yang dilancarkan oleh Inggris.

Para pembaca yang budiman, dikarenakan begitu besarnya pertempuran dan begitu heroiknya perjuangan para pahlawan bangsa kita kala itu, maka hari itu dijadikanlah sebagai “Hari Pahlawan”, mewakili sejarah perjuangan bangsa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Hari ini, adalah hari tepat di mana para pahlawan kala itu berjuang dengan segenap jiwa dan raganya untuk kita semua. Oleh karena itu, dalam rangka mengenang jasa mereka, marilah kita senantiasa mendoakan mereka, semoga mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, amin.





Mengenang Pahlawan Indonesia dari Timur-Papua.

Ditetapkannya 10 November 1945 sebagai “Hari Pahlawan”, pada hakikatnya bukanlah dikarenakan perjuangan para pahlawan pada waktu tersebut adalah sebagai satu-satunya perjuangan, namun hal tersebut mungkin saja dikarenakan begitu besarnya perjuangan yang harus dilakukan oleh para pahlawan kala itu. Dengan demikian, maka ditetapkannya hari tersebut sebagai “Hari Pahlawan”, bukan berarti bahwa tidak ada hari-hari pahlawan yang terjadi di waktu dan tempat yang lain, namun ditetapkannya hari tersebut sebagai “Hari Pahlawan” adalah sebagai penetapan secara simbolis dari hari-hari pahlawan lainnya, yang pernah tertoreh dalam sejarah perjuangan negeri ini.

Dengan demikian, pada “Hari Pahlawan” yang bersejarah ini, penulis juga ingin sedikit mengingatkan kembali kepada kita semua, akan para pahlawan yang tidak kalah pentingnya, yang tidak kalah heroiknya dengan para pahlawan yang gugur di medan pertempuran Surabaya 10 November 1945 tersebut. Penulis ingin mengingatkan kembali kepada kita semua, para pahlawan dari ujung timur Indonesia, Papua, yang telah menorehkan jasanya untuk negeri, para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan kita semua.

Perjuangan para pahlawan di belahan timur Indonesia ini, pada hakikatnya tidaklah jauh berbeda dengan perjuangan para pahlawan dari bagian Indonesia lainnya. Misalnya, dalam sejarah masa pra kemerdekaan tercatat bahwa terdapat dua warga Papua, yakni Aitai Karubaba dan Poreu Ohee yang turut serta dalam barisan pemuda-pemudi yang mengikrarkan kesetiaan dirinya sebagai bagian bangsa Indonesia, pada hari “Sumpah Pemuda” tanggal 28 Oktober 1928 silam. Namun, terkait perjuangan bangsa Papua ini, dalam masa pasca kemerdekaan, Papua justru merupakan satu-satunya daerah yang masih harus meneruskan perjuangan yang cukup panjang, karena ternyata Belanda sang penjajah yang tidak puas menjajah negeri kita dalam tiga setengah abad itu, enggan untuk beranjak pergi dari Papua. Perjuangan bangsa Papua yang sebenarnya sudah merdeka pada hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, masih harus dilanjutkan hingga kembali dikukuhkannya Papua sebagai bagian resmi Indonesia pada tahun 1963, melalui perjanjian “New York Agreement”.

Dalam sejarah, tercatat bahwa terdapat beberapa tokoh Papua yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Mereka itu, diantaranya yaitu Silas Papare, Frans Kaisiepo, Marthen Indey dan Johannes Abraham Dimara (J.A.Dimara). Mereka, para pahlawan nasional tersebut merupakan patriot-patriot terbaik di antara para pahlawan Papua lainnya yang telah menunjukkan perjuangan gigihnya mempertahankan Papua sebagai bagian dari Indonesia, yang kala itu ingin dikaburkan, bahkan ingin dihapuskan oleh Belanda dalam perjalanan sejarah.

Secara singkat, pada kesempatan ini penulis akan tuliskan kembali sedikit biodata dan kisah perjuangan mereka, yakni sebagai berikut :

- Silas Papare. Beliau dilahirkan pada tanggal 18 Desember 1918 di Serui, Irian Jaya (nama Papua dahulu). Kala itu, beliau berjuang mempengaruhi masyarakat untuk senantiasa bersatu merebut kembali tanah Papua dari tangan Belanda. Dalam masa-masa perjuangannya, di antara momen-momen besar yang pernah beliau lakukan, yaitu beliau pernah tergabung dalam Batalyon Papua pada bulan Desember 1945 dalam rangka pemberontakan terhadap Belanda, membentuk Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) pada bulan November 1946, membentuk Badan Perjuangan Irian (BPI) pada bulan Oktober 1949 dan menjadi salah satu anggota delegasi RI (Republik Indonesia) yang ikut dalam penandatanganan “New York Agreement” pada tanggal 15 Agustus 1962. Perjuangan yang salah satunya  melalui jasa beliau, akhirnya pada tanggal 1 Mei 1963, Irian Barat (Papua) pun berhasil dikukuhkan kembali secara resmi sebagai bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selanjutnya, tidak lama kemudian Silas Papare meninggal dunia di tanah kelahirannya Serui, pada tanggal 7 Maret 1978.

- Frans Kaisiepo. Belau dilahirkan di daerah Wardo-Biak pada tanggal 10 Oktober 1921.  Dalam masa-masa mudanya, beliau tercatat pernah mengikuti kursus Pamong Praja di Jayapura, di mana salah satu gurunya adalah Soegoro Atmoprasodjo, seorang mantan guru di Taman Siswa Yogyakarta. Melalui gurunya tersebut, beliau belajar banyak sehingga jiwa nasionalisme yang dimiliki semakin menguat.

Dalam sejarah perjuangannya, beliau tercatat pernah mendirikan Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak. Selanjutnya, beliau juga tercatat pernah terlibat menjadi salah satu anggota delegasi Papua (Nederlands Nieuw Guinea), yang pada saat itu membahas mengenai pembentukan Negara Indonesia Timur (NIT) dalam Republik Indonesia Serikat (RIS), di mana Belanda memasukkan Papua sebagai bagian dari NIT. Pada saat itu, di hadapan konferensi beliau menyampaikan dan memperkenalkan nama “Irian” sebagai pengganti dari “Nederlands Nieuw Guinea”, yang mana pernyataan tersebut merupakan pernyataan tegas beliau, bahwa secara historis dan politik Papua merupakan bagian integral dari Nusantara Indonesia yang tidak terpisahkan. Selain itu, pada tanggal 4 Agustus 1969 dalam proses pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), beliau  juga memiliki peran yang sangat penting, karena pada masa itu beliau menjabat sebagai Gubernur Papua.

Dengan demikian, berkat jasa-jasanya dalam mempertahankan keutuhan NKRI ini, maka beliaupun dicatat sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia.

- Marthen Indey. Beliau dilahirkan di Doromena-Jayapura pada tanggal 16 Maret 1912. Dalam sejarah perjuangannya, beliau tercatat pernah menjadi polisi Belanda, namun kemudian berbalik mendukung Indonesia setelah bertemu dengan beberapa tahanan politik yang diasingkan di daerah Digul, yang salah satu diantaranya yaitu Sugoro Atmoprasojo. Selain itu, pada tahun 1946, beliau juga tercatat pernah tergabung  dalam sebuah organisasi politik Komite Indonesia Merdeka (KIM), yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Partai Indonesia Merdeka (PIM). Selanjutnya, pada tahun 1962 beliau juga tercatat pernah melakukan gerilya penyelamatan anggota RPKAD, yakni pada masa Tri Komando Rakyat (Trikora). Kemudian di tahun yang sama juga, pada masa itu beliau tercatat menyampaikan sebuah Piagam Kota Baru, di mana piagam tersebut berisikan mengenai keinginan kuat penduduk Papua untuk tetap setia pada wilayah kesatuan Indonesia.

Berkat semua jasa-jasanya tersebut, selanjutnya beliau pernah diangkat menjadi salah satu anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) periode 1963-1968, menjadi kontrolir yang diperbantukan pada Residen Jayapura dengan pangkat Mayor Tituler selama dua puluh tahun dan diabadikan namanya dalam nama sebuah Rumah Sakit TNI AD di kota Jayapura.

Akhirnya, pada usia yang ke-74 tahun, tepatnya pada tanggal 17 Juli 1986, beliau wafat dan menutup kisah perjuangannya untuk negeri ini.

- Johannes Abraham Dimara (J.A.Dimara). Beliau dilahirkan di desa Korem Biak Utara pada tanggal 16 April 1916. Beliau merupakan putra dari seorang Kepala Kampung Wiliam Dimara. Dalam masa perjuangannya, beliau tercatat pernah ditangkap dan dipenjara karena penentangannya terhadap Belanda, pernah tergabung dalam Batalyon Patimura APRIS pada tahun 1949 dan turut serta dalam penumpasan pemberontakan RMS (Rakyat Maluku Selatan). Selain itu, beliau juga tercatat pernah menjadi anggota OPI (Organisasi Pembebasan Irian Barat), dalam perjuangannya membebaskan Papua dari sang penjajah. Selanjutnya, pada tanggal 20 Oktober 2000 akhirnya beliau tercatat menutup usia dan perjuangannya, di kota Jakarta.



Memaknai Hari Pahlawan Untuk Papua.

Para pembaca yang budiman, mengakhiri tulisan ini, penulis ingin memberikan sedikit pendapat bagaimana kita memaknai “Hari Pahlawan” ini untuk Papua. Secara sederhana, untuk memaknai hari bersejarah ini, penulis ingin memuatnya dalam dua buah pesan atau pepatah pahlawan kita, yakni Ir. Soekarno Sang Proklamator kemerdekaan negeri kita dan Silas Papare salah satu pahlawan nasional asal Papua sebagaimana yang secara singkat penulis telah menceritakan sedikit mengenai beliau pada paragraf sebelumnya. Dua makna yang penulis maksud, yakni sebagai berikut :

- Pertama, pepatah dari Ir. Soekarno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya”. Melalui pepatah yang disampaikan oleh bapak proklamasi kita, penulis mengajak kepada seluruh warga Papua, dalam rangka memaknai “Hari Pahlawan”, marilah kita senantiasa mengenang jasa para pahlawan kita. Marilah kita senantiasa mendoakan mereka, serta tidak sekali-kali melupakan perjuangan mereka yang telah memperjuangkan kemerdekaan yang kita rasakan hingga hari ini.

- Kedua, pepatah dari pahlawan nasional Silas Papare, “Jangan sanjung aku, tetapi teruskanlah perjuanganku”. Melalui pepatah salah satu pahlawan kita tersebut, marilah kita maknai “Hari Pahlawan” di Papua ini, dengan mengaplikasikan apa yang disampaikan oleh beliau. Marilah kita teruskan perjuangan beliau dan semua pahlawan-pahlawan kita. Marilah kita bangun Papua ini ke arah yang lebih maju, memberikan hal-hal positif dan mencegah hal-hal yang negatif. Marilah kita jadikan masyarakat Papua ini sebagai bangsa yang pekerja keras, bukan bangsa yang pemalas. Marilah kita jadikan masyarakat Papua ini sebagai bangsa yang pintar, rajin, kuat, ulet dan tidak pantang putus asa, bukan bangsa berleha-leha, lemah, dan tukang mabuk-mabukan.

Akhirnya, penulis mengucapkan selamat “Hari Pahlawan” bagi kita semua dan salam damai untuk Papua. (Ib/Cend)

Kamis, 11 Juni 2015

Kunjungan Wakil Direktur Zeni di Merauke Dalam Rangka Pembukaan Lahan Pertanian


Merauke – Wakil Direktur Zeni (Wadirzi) Kolonel Czi M. Munib melaksanakan kunjungan di Merauke dalam rangka pembukaan lahan pertanian di Kabupaten Merauke pada Selasa (9/6).

Dalam kunjunganya Wadirzi Kolonel Czi M. Munib sekaligus melaksanakan peninjuan lahan pertanian PT. Parama Pangan di Kampung Wapeko dalam rangka melihat langsung dari dekat. Contoh lahan yang telah jadi serta melaksanakan diskusi dengan pengelola PT. Parama Pangan tentang bagaimana teknis pembukaan lahan yang meliputi pembuatan saluran irigasi sampai dengan penggolahannya.

Dalam pelaksanaan peninjauan ini, Wadirzi berencana akan membuka lahan pertanian seluas 1000 Ha berdasarkan perintah Kasad dalam upaya membantu kebijakan pemerintah dalam upaya peningkatan swasembada pangan.

Dalam tahap pertama pembukaan lahan ini akan dilakukan di Kampung Wasur dengan lahan seluas 250 Ha. Dalam peninjauan ini, Wadirzi didampingi oleh Kasiter Rem 174/ATW Letkol inf Soehardono dan Dandenzipur 11/MA Mayor Czi Dendi Subeki selaku pelaksana dilapangan nantinya.

Rabu, 13 Mei 2015

Pembangunan Driving Range Golf Oleh Korem 174/ATW


Merauke – Personel Korem 174/Anim TI Waninggap, hari Rabu tanggal 13 Mei 2015 melaksanakan Kegiatan Pembinaan Satuan dengan melaksanakan kegiatan korve pemilihan dan penanaman rumput dalam rangka finising pembuatan lapangan Driving Range untuk olah Raga Golf.

Lapangan  Driving Range dibangun  di atas lahan seluas 4,5 Ha. Di Kawasan area Korem 174/ATW yang nantinya akan dilengkapi dengan driving range atau areal bagi pegolf dengan memanfaatkan lahan yang masih luas dan kosong.

Tujuan dibuatnya lapangan ini karena belum adanya lapangan  Driving Range sebagai sarana olah raga golf di wilayah Merauke selain itu sebagai sarana untuk mengenalkan olah raga golf kepada seluruh masyarakat Kab. Merauke sekaligus sebagai perekat hubungan TNI/Polri dengan seluruh Instansi serta seluruh komponen Masyarakat di wilayah Merauke.

Pembangunan Driving Range ini murni swadaya satuan dan dilaksanakan oleh prajurit Korem 174/ATW bekerjasama dengan Denzipur 11/MA. Dengan dibangunnya Driving Range Mudah-mudahan dapat mendatangkan wisatawan ke Merauke. Tidak hanya sekedar berkunjung, namun juga berolahraga dan stay di kota kita ini. 

 
Design by Cyberteam 17 | Bloggerized by Cyber - Blogger Themes | NKRI